AUD Melemah, Pasar Nanti Keputusan RBA Pekan Ini


Ady Phangestu
-
September 28, 2026
AUD Melemah, Pasar Nanti Keputusan RBA Pekan Ini

Dolar Australia (AUD) tergelincir ke kisaran $0,70. Ini adalah level terendah dalam tujuh minggu terakhir. Penyebabnya adalah penguatan dolar Amerika Serikat. Selain itu, selloff kembali melanda pasar obligasi global. Akibatnya, mata uang berisiko seperti aussie ikut tertekan. Padahal, data ketenagakerjaan domestik Australia sebenarnya mengejutkan pasar ke arah positif.

Fenomena ini menyingkap satu kenyataan penting bagi para pembuat kebijakan di Canberra. Dalam iklim pasar global yang didominasi kekhawatiran inflasi, data domestik yang solid saja tidak cukup untuk menopang mata uang nasional. Sebagai gambaran, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun dan 30 tahun masing-masing menyentuh level tertinggi sejak 2007 dan 2004. Kenaikan ini didorong oleh data ekonomi AS yang kuat serta harga minyak yang tetap tinggi. Kombinasi tersebut lantas memicu kekhawatiran inflasi jangka panjang dan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

Data Tenaga Kerja Australia: Kuat di Permukaan, Rapuh di Bawahnya

Laporan ketenagakerjaan Australia untuk Agustus menunjukkan penambahan 39.500 lapangan kerja. Angka ini jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 20.000. Di atas kertas, tentu ini kabar baik. Namun, tingkat pengangguran justru naik ke 4,6%, level tertinggi dalam lima tahun terakhir. Akibatnya, muncul paradoks yang mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang kian kompleks.

Kombinasi data ini menyisakan pertanyaan kritis. Apakah kenaikan jumlah pekerjaan mencerminkan permintaan tenaga kerja yang benar-benar kuat? Atau, apakah ini sekadar artefak statistik di tengah pertumbuhan angkatan kerja yang lebih cepat dari penyerapannya? Menariknya, Gubernur RBA Michele Bullock tampaknya melihat sisi lain dari data ini secara strategis. Ia bahkan disebut memandang tingkat pengangguran di kisaran 4,5%–5,0% sebagai zona yang justru dapat membantu meredakan tekanan inflasi domestik.

RBA di Persimpangan: Kenaikan Suku Bunga yang Nyaris Pasti

Laporan ketenagakerjaan Agustus ini menjadi rilis data makroekonomi besar terakhir sebelum pertemuan kebijakan moneter Reserve Bank of Australia pada 28–29 September. Oleh karena itu, pasar kini memperkirakan probabilitas 95% bahwa RBA akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,60%. Sejumlah analis bahkan memproyeksikan potensi puncak (terminal rate) di kisaran 5,10%.

Namun demikian, banyak analis meyakini kenaikan 25 bps ke 4,60% justru akan menjadi titik puncak siklus pengetatan moneter RBA kali ini. Argumennya bertumpu pada dua sisi yang saling berlawanan:

  • Tekanan inflasi yang persisten — harga bahan bakar di level SPBU berada mendekati rekor tertinggi historis. Kondisi ini berisiko menjaga inflasi tetap tinggi lebih lama. Karena itu, Bullock dan sejumlah anggota dewan RBA lainnya berulang kali menegaskan bahwa kebijakan moneter harus membatasi efek putaran kedua (second-round effects) sekaligus menjaga ekspektasi inflasi tetap terjangkar.
  • Tanda-tanda pelemahan aktivitas ekonomi — sebaliknya, PMI bulan September turun ke level terendah dalam tiga bulan. Ini mengindikasikan pertumbuhan yang kian moderat, sejalan dengan kenaikan tingkat pengangguran.

Meski begitu, sinyal pelemahan aktivitas ini dinilai tidak akan cukup untuk menghalangi RBA menaikkan suku bunga pekan depan. Setelah langkah ini, bank sentral diperkirakan akan mengambil jeda. Tujuannya adalah mengevaluasi dampak kumulatif kenaikan suku bunga tahun ini terhadap perekonomian riil. Meski demikian, risiko kenaikan lanjutan tetap terbuka, tergantung data inflasi, tenaga kerja, dan pertumbuhan pasca-pertemuan.

Skenario yang Lebih Agresif: Mungkinkah RBA Kejutkan Pasar dengan Kenaikan 50 Basis Poin?

Di sinilah letak ketegangan sesungguhnya. Saat ini, RBA memegang suku bunga acuan tertinggi di antara negara-negara ekonomi maju. Akan tetapi, tekanan inflasi dari sisi upside membuat sebagian pelaku pasar mempertanyakan apakah bank sentral akan berani mengambil langkah yang lebih agresif. Pilihannya bisa berupa kenaikan 50 basis poin sekaligus, atau setidaknya mempertahankan retorika ultra-hawkish yang mengisyaratkan kenaikan lanjutan menjelang akhir tahun.

Pertimbangan semacam ini bukan tanpa alasan. Tanpa sikap yang cukup agresif, aussie berisiko terus underperform terhadap dolar AS. Terlebih lagi, lingkungan yield Treasury AS yang terus memanas menambah tekanan tersendiri, seperti yang juga terlihat dalam analisis outlook kenaikan suku bunga The Fed. Bagi RBA, mempertahankan kredibilitas kebijakan anti-inflasi menjadi taruhan ganda: menahan laju inflasi domestik sekaligus mencegah pelemahan mata uang yang justru bisa mengimpor inflasi lewat harga barang impor yang lebih mahal.

Faktor Eksternal: China dan Musim Libur Nasional Tujuh Hari

Selain faktor domestik, nasib aussie turut bergantung pada data PMI China. Data ini akan dirilis menjelang libur nasional tujuh hari di negeri tersebut. Sebagai mitra dagang terbesar Australia, kondisi ekonomi China memiliki pengaruh signifikan terhadap sentimen pasar terhadap aussie, mengingat AUD kerap diperlakukan pasar sebagai proksi likuid untuk eksposur terhadap ekonomi China.

Jika data PMI China menunjukkan perbaikan, hal ini berpotensi memberikan bantalan bagi aussie di tengah tekanan dari sisi dolar AS. Namun, aktivitas ekonomi domestik China akan menghadapi periode libur panjang. Akibatnya, volume perdagangan dan likuiditas pasar berpotensi menipis, sehingga volatilitas jangka pendek pun perlu diwaspadai. Dinamika serupa juga pernah terlihat dalam kasus intervensi kebijakan yang mendorong pergerakan USD/JPY menjauhi level 160.

Divergensi Bitcoin dan Emas: Sinyal Alokasi Aset yang Berubah

Di luar arena mata uang tradisional, pasar aset digital dan logam mulia menunjukkan pola pergerakan yang mencolok. Sepanjang Agustus, bitcoin dan emas sempat tampil solid berbarengan. Akan tetapi, keduanya mulai bergerak berlawanan arah di September, dengan korelasi satu bulan yang melemah tajam.

Di satu sisi, bitcoin melonjak ke level $87.000. Kenaikan ini ditopang oleh sejumlah kemajuan di ranah regulasi Amerika Serikat, meski RUU Clarity Act masih mandek di parlemen. Selain itu, muncul pula gelombang optimisme seputar wacana tokenisasi saham dan perdagangan 24/7. Perkembangan ini menegaskan narasi bahwa aset kripto kian dipandang sebagai kelas aset yang semakin terintegrasi dengan pasar keuangan konvensional.

Di sisi lain, emas justru tertekan oleh kombinasi yield riil yang lebih tinggi dan penguatan dolar AS. Bahkan, logam mulia ini telah melepas lebih dari separuh kenaikan harganya sejak awal Agustus. Koreksi tajam ini mengingatkan bahwa daya tarik emas sebagai aset lindung nilai sangat sensitif terhadap arah kebijakan moneter AS, sebagaimana dibahas lebih lanjut dalam analisis paradoks harga emas di tengah tekanan suku bunga dan yield obligasi.

Proyeksi ke Depan: Dolar AS Masih Perkasa, tapi Berapa Lama?

Secara jangka panjang, outlook untuk dolar AS memang tampak positif. Sebab, yield Treasury yang tinggi dan data ekonomi domestik AS yang solid terus menjadi penopang utamanya. Meski begitu, dalam jangka pendek, arah pembalikan sangat bergantung pada kombinasi sejumlah variabel yang saling terkait:

  1. Pelemahan data ekonomi AS — jika momentum data makro AS mulai kendur, maka tekanan terhadap yield dan dolar berpotensi mereda.
  2. Kemungkinan gencatan senjata di Timur Tengah — selanjutnya, de-eskalasi geopolitik dapat menekan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi, sehingga pada gilirannya melemahkan dolar.
  3. Perbaikan minat risiko pasar (risk appetite) — pada akhirnya, kombinasi yield yang lebih rendah dan sentimen risiko yang membaik berpotensi menjadi katalis pembalikan arah bagi emas dan aset berisiko lainnya, termasuk aussie.

Untuk data resmi terkini seputar tingkat pengangguran dan tenaga kerja Australia, pembaca dapat memantau rilis dari Australian Bureau of Statistics, sementara keputusan dan pernyataan resmi kebijakan moneter dapat diikuti langsung melalui situs Reserve Bank of Australia.

Catatan Kritis: Kebijakan Moneter di Tengah Sinyal yang Saling Bertentangan

Situasi yang dihadapi RBA saat ini mencerminkan dilema klasik bank sentral di era pasca-pandemi. Bagaimana caranya merespons data inflasi yang keras kepala, sementara sinyal pelemahan aktivitas ekonomi riil mulai bermunculan? Faktanya, keputusan untuk tetap menaikkan suku bunga meski PMI melemah dan pengangguran naik menunjukkan satu hal jelas: RBA memprioritaskan kredibilitas kebijakan anti-inflasi jangka panjang di atas kekhawatiran perlambatan jangka pendek.

Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Jika pelemahan aktivitas ekonomi berlanjut lebih cepat dari perkiraan, sementara inflasi tetap tinggi akibat faktor eksternal seperti harga energi, maka RBA berisiko terjebak dalam skenario stagflasi ringan. Dalam kondisi demikian, ruang gerak kebijakan moneter menjadi jauh lebih sempit. Pada akhirnya, setiap langkah lanjutan pasca-September akan sangat bergantung pada seberapa cepat data lapangan mengonfirmasi bahwa 4,60% benar-benar merupakan titik puncak siklus pengetatan ini.

Tinjauan Teknis

Secara teknikal, AUD/USD tengah berada dalam fase koreksi bearish yang cukup signifikan setelah gagal menembus resistance kuat di area 0,7237–0,7276, di mana pola RSI Divergence Bearish kembali muncul, mengindikasikan momentum penguatan sebelumnya mulai kehabisan tenaga meski harga sempat mencetak higher high. Konfirmasi pelemahan semakin jelas dengan terjadinya breakdown tajam dari level 0,7106–0,7096, menembus EMA 20/50 secara berurutan, yang mendorong harga jatuh cepat ke level psikologis 0,7000 dan kini diperdagangkan di kisaran 0,7023, tepat di atas EMA 200 yang berada di sekitar 0,6983 sebagai support dinamis krusial jangka menengah.

RSI saat ini berada di level 34,31, mendekati area oversold namun belum ekstrem, sehingga masih terbuka ruang pelemahan lanjutan jika level psikologis 0,7000 dan EMA 200 gagal bertahan, yang berpotensi membuka jalan menuju zona support kuat berikutnya di 0,6864–0,6833; sebaliknya, apabila area 0,7000/0,6983 mampu menahan tekanan jual, peluang rebound teknikal jangka pendek bisa mengarah kembali menguji zona resistance breakdown di 0,7096–0,7106 sebagai level pertama yang perlu diwaspadai oleh pelaku pasar.

Tags: au-us bitcoin gold rba
Berdagang Sekarang
Syarat dan Ketentuan Berlaku

Klik disini untuk mengakses Kalender Ekonomi

Disclaimer: Materi ini disediakan sebagai komunikasi marketing umum untuk tujuan informasi saja dan bukan merupakan penelitian investasi independen. Tidak ada satu pun dalam komunikasi ini yang berisi, atau harus dianggap berisi, saran investasi atau rekomendasi investasi atau permintaan untuk tujuan membeli atau menjual instrumen keuangan apa pun. Semua informasi yang diberikan dikumpulkan dari sumber-sumber yang memiliki reputasi baik dan informasi apa pun yang mengandung indikasi kinerja masa lalu bukan merupakan jaminan atau indikator yang dapat diandalkan untuk kinerja di masa depan. Pengguna mengakui bahwa setiap investasi dalam Produk dengan Leverage memiliki tingkat ketidakpastian tertentu dan bahwa setiap investasi semacam ini melibatkan risiko tingkat tinggi yang menjadi tanggung jawab dan kewajiban pengguna. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari investasi yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan dalam komunikasi ini. Komunikasi ini tidak boleh direproduksi atau didistribusikan lebih lanjut tanpa izin tertulis dari kami.

Article Author

Ady Phangestu

Penulis buku teknikal analisa valuta asing, praktisi dan pengajar valuta asing yang sudah mengadakan seminar diberbagai wilayah Indonesia bersama dengan hfmarkets. Berkiprah didunia transaksi selama 12 tahun. Saat ini masih aktif sebagai penulis dan memberikan pembelajaran forex dan pengenalan produk finansial. Pelatihan dasar-dasar valuta asing asing secara offline maupun online.

Acara Mendatang