Prospek Harga Minyak 2026: Brent Bertahan Tinggi, Ini Rentangnya
Harga minyak dunia kompak melemah pada Kamis (1/10) pagi. Meski begitu, harganya masih tinggi. WTI turun 4,40% dalam sepekan dan 0,61% dalam sebulan ke US$90,585 per barel. Sementara itu, Brent anjlok 7,81% sepekan dan 2,76% sebulan ke US$98,420 per barel.
Lalu, ke mana arah harga minyak hingga akhir tahun? Artikel ini membahas prospek harga minyak 2026 berdasarkan data lembaga energi dan analisis terbaru.
Tren Harga Minyak: Tinggi tapi Melandai Bertahap
Proyeksi resmi menunjukkan penurunan yang pelan. Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan Brent rata-rata sekitar US$90 per barel pada semester II 2026. Angka itu naik US$8 dari proyeksi bulan lalu.
Selanjutnya, EIA melihat harga turun ke rata-rata US$77 pada kuartal II 2027. Syaratnya, ekspor Timur Tengah pulih dan produksi yang terhenti kembali jalan.
Dengan demikian, harga saat ini berada di atas proyeksi dasar EIA. Artinya, pasar sudah memasukkan premi risiko geopolitik yang besar. Selain itu, selisih Brent dan WTI sekitar US$7,8 cukup lebar. Kondisi ini menunjukkan pasokan global yang ketat.
Pasokan Anjlok, Permintaan Ikut Tertekan
Laporan terbaru Badan Energi Internasional (IEA) menggambarkan pasar yang sedang bergeser. Pasokan dunia diperkirakan turun 5,7 juta barel per hari (bpd) menjadi 100,7 juta bpd pada 2026. Pemulihan penuh produsen Timur Tengah baru terjadi pada 2027.
Di sisi lain, permintaan global diperkirakan turun 2,5 juta bpd tahun ini. Sebab, harga yang tinggi membuat orang berhemat. Meski begitu, IEA memperkirakan permintaan naik lagi 2,6 juta bpd pada 2027.
Selain itu, stok global masih terkuras. EIA memperkirakan stok turun rata-rata 3,0 juta bpd pada kuartal III. Pada kuartal IV, penurunannya sekitar 1,7 juta bpd. Oleh karena itu, harga sulit jatuh jauh sebelum cadangan terisi lagi.
Namun, lembaga besar belum sepakat. OPEC masih melihat permintaan tumbuh. Sebaliknya, EIA dan IEA memperkirakan permintaan menyusut. Perbedaan ini menunjukkan ketidakpastian yang tinggi.
Sentimen Penggerak Harga Minyak
Sejumlah faktor mendorong harga naik. Pertama, negosiasi AS-Iran masih buntu dan status Selat Hormuz belum jelas. Kedua, stok minyak mentah dilaporkan di bawah 300 juta barel, terendah dalam lebih dari empat dekade. Ketiga, pemulihan produksi di Teluk baru terjadi pada 2027.
Di sisi lain, ada faktor yang menekan harga. Ekspor Timur Tengah mulai pulih. Arus lewat Selat Hormuz naik ke 13,2 juta bpd, dan pipa East-West Arab Saudi beroperasi separuh kapasitas. Selain itu, permintaan melemah karena harga mahal. Pasokan dari luar OPEC+ juga tumbuh sekitar 1,4 juta bpd pada 2026.
Terobosan diplomatik pun bisa memangkas premi risiko dengan cepat. Apalagi, Iran dikabarkan sudah menerima proposal AS soal pembukaan selat.
Dampak ke Dolar, Yield, dan Emas
Harga minyak tidak bergerak sendirian. Inflasi akibat energi mendorong imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi sejak 2002. Yield Treasury 10 tahun kini sekitar 5,3%. Akibatnya, indeks dolar menguat ke kisaran 101,5.
Kombinasi ini menekan aset berisiko. Emas pun ikut tertahan. Untuk memahami kaitannya, simak ulasan tentang rebound emas di tengah data AS yang lebih lemah dan dukungan yield. Selain itu, baca analisis tentang paradoks emas yang tertahan suku bunga dan yield obligasi.
Di luar AS, bank sentral lain juga memengaruhi arah dolar. Karena itu, Anda bisa menelusuri arah kebijakan ECB dan pergerakan pound sterling untuk melengkapi gambaran pasar.
Yang Perlu Dicermati Investor
Ada lima katalis dalam waktu dekat. Pertama, kabar negosiasi AS-Iran dan rencana pembukaan Hormuz. Kedua, keputusan OPEC+ akhir pekan ini, dengan kuota November yang diperkirakan tetap. Ketiga, laporan tenaga kerja AS pada Jumat dan arah kebijakan The Fed. Keempat, rilis EIA STEO pada 6 Oktober dan IEA OMR pada 14 Oktober. Terakhir, data stok mingguan EIA.
Dalam kondisi seperti ini, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Satu berita saja bisa menggerakkan harga dengan tajam. Karena itu, ukuran posisi dan batas risiko lebih penting daripada menebak arah. Investor juga sebaiknya tidak mengejar harga. Sebab, kabar damai bisa menekan harga lebih cepat daripada kenaikan lanjutan.
Bagi investor di pasar negara berkembang, minyak mahal dan dolar kuat menekan mata uang lokal serta anggaran subsidi. Sebaliknya, emiten energi dan batu bara relatif diuntungkan.
Rentang Proyeksi Harga Minyak hingga Akhir 2026
Berikut rentang yang paling logis menurut analisis berdasarkan data di atas. Pertama, skenario dasar menempatkan Brent di US$85-95 dan WTI sekitar US$78-88. Skenario ini berlaku jika arus Timur Tengah pulih bertahap. Kedua, skenario bearish membawa Brent ke US$75-82 dan WTI ke US$68-75. Hal itu terjadi jika AS dan Iran sepakat dan Hormuz dibuka penuh. Ketiga, skenario bullish mendorong Brent ke US$100-110 atau lebih. Pemicunya adalah kegagalan negosiasi atau gangguan baru.
Perlu dicatat, proyeksi bank yang lebih rendah sudah agak usang. Misalnya, J.P. Morgan memproyeksikan Brent US$78 di akhir tahun. Namun, angka itu dibuat sebelum EIA menaikkan perkiraannya.

Analisis Teknikal Brent
Dari sisi teknikal, Brent di 102,80 sedang bergerak mendatar. Harga terjepit antara support 97,60 dan resistance 112-113. Zona 112-113 sudah menolak harga dua kali, yaitu pada Mei dan September. Puncak kedua lebih rendah, sehingga terbentuk pola double top. Pola ini menandakan tenaga pembeli mulai habis.
Sementara itu, support 97,60 berimpit dengan EMA 20 dan 50. Karena itu, level ini menjadi penentu arah. RSI di 53 juga masih netral. Sebelumnya, RSI beberapa kali menunjukkan divergensi bearish pada Maret-September. Akibatnya, momentum naik belum pulih.
Selama harga bertahan di atas 97,60, pergerakan cenderung mendatar. Dalam kondisi itu, harga bisa memantul ke 107-108 dan batas atas 112. Namun, penutupan harian di bawah 97,60 berpotensi membuka koreksi ke EMA 200. Sebaliknya, penutupan di atas 112 membatalkan skenario koreksi dan membuka ruang kenaikan lanjutan.
Oleh sebab itu, tunggu konfirmasi di dua batas tersebut. Hindari entry di tengah range, apalagi saat risiko headline AS-Iran dan data NFP Jumat masih ada.
Kesimpulan
Harga minyak memang melemah sepekan terakhir. Namun, fundamental pasokan masih ketat. Dengan demikian, titik tengah yang paling terdukung data saat ini adalah Brent di kisaran US$90. Pada akhirnya, arah selanjutnya bergantung pada diplomasi AS-Iran dan kecepatan pemulihan aliran minyak Timur Tengah.
Syarat dan Ketentuan Berlaku
Klik disini untuk mengakses Kalender Ekonomi
Disclaimer: Materi ini disediakan sebagai komunikasi marketing umum untuk tujuan informasi saja dan bukan merupakan penelitian investasi independen. Tidak ada satu pun dalam komunikasi ini yang berisi, atau harus dianggap berisi, saran investasi atau rekomendasi investasi atau permintaan untuk tujuan membeli atau menjual instrumen keuangan apa pun. Semua informasi yang diberikan dikumpulkan dari sumber-sumber yang memiliki reputasi baik dan informasi apa pun yang mengandung indikasi kinerja masa lalu bukan merupakan jaminan atau indikator yang dapat diandalkan untuk kinerja di masa depan. Pengguna mengakui bahwa setiap investasi dalam Produk dengan Leverage memiliki tingkat ketidakpastian tertentu dan bahwa setiap investasi semacam ini melibatkan risiko tingkat tinggi yang menjadi tanggung jawab dan kewajiban pengguna. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari investasi yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan dalam komunikasi ini. Komunikasi ini tidak boleh direproduksi atau didistribusikan lebih lanjut tanpa izin tertulis dari kami.